DEFINISI DAN ISTILAH

DASAR HUKUM

  1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial;
  2. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin;
  3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
  4. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 08 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial;
  5. Peraturan Menteri Sosial Nomor 28 Tahun 2017 tentang Pedoman Umum Verifikasi dan Validasi Data Terpadu Penanganan Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu;
  6. Keputusan Menteri Sosial Nomor 71 / HUK / 2018 tentang Penetapan Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin Tahun 2018.

 

KONSEP DEFINISI

Sistem Informasi Rumah Rumuh dan Miskin (SIKUMIS) pada Dinas Sosial Kabupaten Serang adalah Aplikasi yang memuat dan menampilkan data Rumah Tidak Layak Huni berdasarkan Basis Data Terpadu (BDT) secara lengkap dan spesifik by name by address, keterangan rtlh dan keterangan lainnya.

 

  1. Fakir Miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan / atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan / atau keluarganya.
  2. Orang Tidak Mampu adalah orang yang mempunyai sumber mata pencaharian, gaji atau upah, yang hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar yang layak namun tidak mampu membayar iuran bagi dirinya dan keluarganya.
  3. Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu yang berasal dari Rumah Tangga (teregister) memiliki Kriteria :
    1. Tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan / atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.
    2. Mempunyai pengeluaran sebagain besar digunakan untuk memenuhi konsumsi makanan pokok dengan sangat sederhana.
    3. Tidak mampu atau mengalami kesulitan untuk berobat  ke tenaga medis, kecuali Puskesmas atau yang disubsidi pemerintah.
    4. Tidak mampu membeli pakaian satu kali dalam satu tahun untuk setiap anggota rumah tangga.
    5. Mempunyai kemampuan hanya menyekolahkan anaknya sampai jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
    6. Mempunyai dinding rumah terbuat dari bambu /kayu/tembok dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah, termasuk tembok yang sudah usang/berlumut atau tembok tidak diplester.
    7. Kondisi lantai terbuat dari tanah atau kayu/semen/keramik dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah.
    8. Atap terbuat dari ijuk/rumbia atau genteng/seng/asbes dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah.
    9. Mempunyai penerangan bangunan tenpat tinggal bukan dari listrik atau listrik tanpa meteran.
    10. Luas lantai rumah kecil krang dari 8 M2/orang.
    11. Mempunyai sumber air minum berasal dari sumur atau mata air tak terlindungi/air hujan/air lainnya.
  4. Verifikasi adalah  proses kegiatan pemeriksaan dan pengkajian untuk menjamin kebenaran data.
  5. Validasi adalah suatu tindakan untuk menetapkan kesahihan data.
  6. Data Terpadu adalah Sistem  Data Elektronik berisi data nama dan alamat yang memuat informasi sosial, ekonomi, dan demografi dari individu dengan status kesejahteraan terendah (fakir miskin) di Indonesia.

 

JENIS PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS)

1. Kemiskinan

Fakir Miskinadalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau keluarga yang mempunyai mata pencaharian, tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan.

Perempuan Rawan Sosial Ekonomi, adalah seorang perempuan dewasa berusia 18-59 tahun belum menikah atau janda, atau berusia kurang dari 18 tahun tetapi sudah menikah dan tidak mempunyai penghasilan cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis, adalah keluarga yang hubungan antar anggota keluarganya terutama hubungan suami – istri,orang tua dan anak kurang serasi, sehingga tugas-tugas dan fungsi keluarga tidak dapat berjalan dengan wajar.

 

2. Anak/Ketelantaran

Anak Balita Terlantar, adalah anak yang berusia 0-4 tahun yang karena sebab tertentu, orang tuanya tidak dapat melakukan kewajibannya (karena beberapa kemungkinan seperti miskin atau tidak mampu, salah seorang dari orang tuanya atau dua-duanya sakit, salah seorang/keduaduanya meninggal, keluarga tidak harmonis, tidak ada pengasuh/pemempu) sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani dan sosial.

Anak Terlantar, adalah anak berusia 5-17 tahun yang karena sebab tertentu, orang tuanya tidak dapat melakukan kewajibannya (karena beberapa kemungkinan seperti miskin atau tidak mampu, salah seorang dari orang tuanya atau dua-duanya sakit, salah seorang/keduaduanya meninggal, keluarga tidak harmonis, tidak ada pengasuh/pemempu) sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani dan sosial.

Anak Berhadapan Dengan Hukumadalah anak yang berusia 5-17 tahun yang berperilaku menyimpang dari norma dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, lingkungannya sehingga merugikan dirinya, keluarganya dan orang lain, serta mengganggu ketertiban umum.

Anak Jalanan, adalah anak yang melewatkan atau memanfaatkan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan sehari-hari di jalanan termasuk lingkungan pasar, pertokoan dan pusat-pusat keramaian lainnya untuk mencari nafkah.

Anak dengan Kedisabilitasan (ADK), adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun yang mempunyai kelainan fisik atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan bagi dirinya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani, rohani maupun sosialnya secara layak, yang terdiri dari anak dengan disabilitas fisik, anak dengan disabilitas mental dan anak dengan disabilitas fisik dan mental.

Anak yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan atau diperlakukan Salah, adalah anak yang terancam secara fisik dan non fisik karena tindak kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau lingkungan sosial terdekatnya, sehingga tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.

Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus, adalah anak yang berusia 6 - 18 tahun dalam situasi darurat, dari kelompok minoritas dan terisolasi, dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, diperdagangkan, menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza), korban penculikan, penjualan, perdagangan, korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, yang menyandang disabilitas dan korban perlakuan salah dan penelantaran.

Lanjut Usia Terlantar, adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, karena faktor-faktor tertentu (tidak mempunyai bekal hidup, pekerjaan, penghasilan bahkan tidak mempunyai sanak keluarga) tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosial.

 

3. Kedisabilitasan

Penyandang Disabilitas, adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan bagi dirinya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani, rohani maupun sosialnya secara layak, yang terdiri dari  penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental dan penyandang cacat fisik dan mental. Dalam hal ini termasuk penyandang cacat eks penyakit kronis.

 

4. Ketunaan Sosial dan Penyimpangan Prilaku

Gelandangan, adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai pencaharian dan tempat tinggal yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum.

Pengemis, adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan di tempat umum dengan berbagai cara dan alasan dengan meminta-minta untuk mengharapkan belas kasihan orang lain.

Pemulung, adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan cara memungut dan mengumpulkan barang-barang bekas yang berada diberbagai tempat emukiman pendudukan, pertokoan dan/atau pasar-pasar yang bermaksud untuk didaur ulang atau dijual kembali, sehingga memiliki nilai ekonomis.

Kelompok Minoritas, adalah kelompok yang mengalami gangguan keberfungsian sosialnya akibat diskriminasi dan marginalisasi yang diterimanya sehingga karena keterbatasannya menyebabkan dirinya rentan mengalami masalah sosial, seperti gay, waria dan lesbian.

Bekas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (BWBLP), adalah seseorang yang telah selesai menjalani masa hukuman atau masa pidananya sesuai dengan keputusan pengadilan dan mengalami  hambatan untuk menyesuaikan diri kembali dalam kehidupan masyarakat, sehingga mendapat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan atau melaksanakan kehidupannya secara normal.

Tuna Susila, adalah seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan sesama atau lawan jenis secara berulang-ulang dan bergantian diluar perkawinan yang sah dengan tujuan mendapatkan imbalan uangmateri atau jasa.

Korban Penyalahgunaan NAPZA, adalah seseorang yang menderita ketergantungan yang disebabkan oleh penyalahgunaan napza (narkotika, psikotropika dan zat-zat adiktif lainnya termasuk minuman keras) baik atas kemauan sendiri ataupun karena dorongan atau paksaan orang lain.

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)adalah seseorang dengan rekomendasi profesional (dokter) atau petugas laboratorium terbukti terinfeksi virus HIV, sehingga mengalami sindrom menurunnya daya tahan tubuh (AIDS) dan hidup terlantar.

            

5. Korban Tindak Kekerasan, Eksploitasi dan Diskriminasi

Korban Tindak Kekerasan (KTK), adalah orang (baik individu, keluarga atau kelompok) yang mengalami tindak kekerasan, baik dalam bentuk penelantaran, perlakuan salah, eksploitasi, diskriminasi dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya maupun orang yang berada dalam situasi yang membahayakan dirinya sehingga menyebabkan fungsi sosialnya terganggu.

Korban Trafficking, adalah seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik seksual, ekonomi dan/atau sosial yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang.

Pekerja Migran Bermasalah Sosial (PMBS), adalah pekerja migran internal dan lintas negara yang mengalami masalah sosial, baik dalam bentuk tindak kekerasan, ketelantaran karena mengalami musibah (faktor alam dan sosial), mengalami disharmoni sosial karena ketidakmampuan menyesuaikan diri di tempat kerja.

 

6. Keterpencilan

Komunitas Adat Terpencil (KAT), adalah kelompok orang atau masyarakat yang hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial kecil yang bersifat lokal dan terpencil, dan masih sangat terikat pada sumber daya alam dan habitatnya secara sosial budaya tearsing dan terbelakang dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, sehingga memerlukan pemberdayaan dalam menghadapi perubahan lingkungan dalam arti luas.

  

7. Korban Bencana

Korban Bencana Alam, adalah Perorangan, keluarga atau kelompok masyarakat yang menderita baik secara fisik, mental maupun sosial ekonomi sebagai akibat dari terjadinya bencana alam yang menyebabkan mereka mengalami hambatan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Termasuk dalam korban bencana alam adalah korban bencana gempa bumi tektonik, letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir, gelombang pasang atau tsunami, angin kencang, kekeringan, dan kebakaran hutan atau lahan, kebakarn pemukiman, kecelakaan pesawat terbang, kereta api, perahu dan musibah industri (kecelakaan Kerja).

Korban Bencana Sosial, adalah perorangan, keluarga atau kelompok masyarakat yang menderita baik secara fisik, mental maupun sosial ekonomi sebagai akibat dari terjadinya bencana sosial atau kerusuhan (konflik antar etnis, kerusuhan massal) terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat tinggal untuk waktu yang belum pasti yang menyebabkan mereka mengalami hambatan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.